12 November 2010

Pencinta

telah lama kulalui badai hidup iktibar insan
kupelajari setiap lembar yang dibaca

andai inilah pertemuan yang tak pernah wujud
kita akan melalui pertemuan-pertemuan lain
kerana sunyi sering memberikan kenderaanya
membelah jalan-jalan yang meriah dan riuh

riuh sunyi terhasil rasa yang selalu rahsia
kita menjadi lebih waspada melepaskan tali uji
meredah payah dalam pelayaran yang masih koma
mengintai benar peristiwa tersimpan dengan setia

ini matahari cahayamu yang kembali
dalam bayang-bayang resah menolak rasa goyah
wangi bunga hati bergema berapung dalam minda
pilihlah jalan-jalan kebaikan untuk bertemu pencinta

cahaya telah lama berakar demikian benar
keagungan itu telah menerimamu pencinta sabar
kau semai cinta di dadaku tak mungkin terabai
junjung keberanian tabah menjulang niat tercapai

Sandakan,
Sabah.

11 November 2010

Asmaraloka

tak pernah lagi ku memandangmu
hanya panah kalbu yang menusuk kepadanya
membelah langit pawana

tatkala akan terbentang permaidani
kuberlalu dengan sebuah diri
yang memerdukan suara paling rahsia

apakah ada sebuah persitiwa yang
lebih dekat menelan indahmu cahaya
kian berkembang menakluk gelora?

kau berada di pandangan yang menjelma
berhijab di sebalik sutera asmaraloka
beradu di baldu singgahsana

ingin kupandang segala rasa
hanya kutahu semuanya sempurna
terkunci di kamar hamba

sebuah diri yang berlari-lari
menatapmu dalam lamun masa lalu
menaklukmu dalam sulam seutuh kalbu...

Sandakan,

Sabah. 

06 September 2010

Di Langit Cinta Engkaukah Nurin


Embun tidak kelihatan di sana
sapa sinar telah sirna semakin jauh sauh perahu hayat
terbenam dicengkam arus rakus
memusar kasar – bengis, tragis, sadis
berhamburan nafsu pada segala raksa memandang bungkam
sambil tak tergambar potret kesakitan dirakam alam diam
tak terkuasa menyelamatkan atau mengembalikan kekuatan
yang telah hilang dilorong ketakutan.

Engkaukah itu Nurin yang bisu tunduk berteleku
bagai patuh diuji petaka manusia durja
yang mati hati budi hilang pertimbangan insani
di celah bangsa ternobat hebat disanjung payung kasih sayang,
Engkaukah itu Nurin yang syahdu
dibungkus tanya dari telanjang ujian
membuat dunia berkabung dan menangis
menerima sebuah keberangkatan pilu menghiris,
Engkaukah itu Nurin yang berlalu
tanpa jalan-jalan terang buat kembali
tanpa lorong-lorong tenang buat pulang
menemui orang-orang tersayang.

Hanya cahaya cinta menyatukan rela redha pasrah
hanya bukti cinta maha agung menganugerahi
ujana putih di anjung syurgawi
hanya akrab cinta maha abadi bertakhta
mendakap silammu tanpa batas.

Saat berapung di udara cahaya menakluk mulus
dalam bauran desir doa yang terungkap dalam pengap
sepanjang saf-saf di musala
mengumpul ucap dan ungkap
mengalir ke langit cinta,
engkau di sana dalam nafas yang cair
meninggalkan zahir
yang berbeza warna menyatukan purnama
dalam bahasa rasa yang serupa.


Pustaka Iqbal Nazim,
Kota Kinabalu.
21 September 2007

04 September 2010

Lailatul Tajalli

bumi yang tenang
kembang cahaya bertandang
rahsiaNya yang tersimpan
qiam
hanya raja' dianyam
sejadah mengutus tulus
segala jiwa kudus


PUSTAKA IQBAL NAZIM
25 Ramadan 1431H

02 September 2010

Hari-Hari Baru

Dengan segera segara usia membentangkan
hari-hari baru. Di manakah engkau masa lalu?
Sayu syahdu terdengar suaramu di sisi malam
ketika detik semakin tipis akhirnya jernih
bergabung di dasar katarsis diri

Tak kan kembali hanya kenangan bersahabat
akrab menghulur pedoman panji-panji syahadat
bersaksi wujud keagungan dan waadat kesetiaan
menjelangnya kalimat menjana amanat
kukuh padu hayat

Hari-hari baru tak mungkin melupaimu peristiwa
tidak juga titik yang diam apabila perjalanan
akan saling berpegangan pengalaman
meluntur duka tapi melarik tabir cita
menyerlah semarak wibawa

Kubangun semula
hari-hari baru lebih harus waspada.

RAMIN 8
TAMAN PUTERAJAYA
TELIPOK KOTA KINABALU

1 September 2010
22 Ramadan 1431H

31 Ogos 2010

Menoleh Sesal

Hanya mimpi kau beri pada bulan
meski sempat kukutip debu-debu lalu di jalanan pulang
sempat kutoleh matangnya malang

tidak mengertikah bahasa degil sering terungkapkan
hala selalu diakhiri pedoman yang disesalkan
masa berlalu, berlalu saja di jendela dukacita

jika di situlah amaran, kusimpan malu di tabir bibir
tak ada huruf yang kuhafal selain memaknakan sesal
kala di simpang kutemui senjaku

berhenti menjelajah siur fikir
jejari hipokrit yang mencengkam dulu
lara membara, membakar wajar

berhenti menjengah mimpi-mimpi pada bulan
mari kayuh kehidupan ke perut lautan
meski tak menjumpai gelora dan gelombang

5 April 2000

29 Ogos 2010

Gumam

Memang, bukan mudah menterjemah madah suatu waktu di mana kelu lidah lebih suka memilih gumam, jika tiba waktunya suara tak berjiwa, hampa terpenjara di dalam kelam prasangka

Siapakah yang lebih gagah lalu berdiri bangga, tatkala akalnya telah diasak mewah, mindanya telah disuntik benih memperdaya? Siapakah yang lebih berduka lalu gumam, tatkala penjelasan terlalu sukar berakar, terlalu payah mengalah?

Menterjemah batini daripada sebuah pengalaman menjadi sedemikian payah, seolah-olah past iraja itu di mata dan sultan itu di hati! Walaupun gumam, denyut nadi sentiasa mencermini pengalaman lampau, rakit kesilapan yang hanyut jangan biarkan hanyut, teguhkan kerenggangan ikatannya dan tujuilah hingga ketemu lautan sebenar

Barangkali lebih baik gumam menterjemah warna ketenangan dalam diam mentelaah kecantikan bahasa batini menghadap cerminan kehidupan.


PUSTAKA IQBAL NAZIM

20 Ogos 2010

Di Hadapan Kertas Kerja

Bersedia membentangkan yang kufikirkan:
kumulai dari akar sejarah sebuah kesabaran
seorang manusia mendekap cermin kemurnian
seorang pencanang kekusutan ilham

bersedia menerima pisau yang kuasah
menyiat akalku yang mengilhamkan percubaan
memilih suatu kebenaran
meletakkan dacing penelitian
di atas kertas yang kubentangkan

dengan sehalusku kubicarakan dengan mendalam
kualihkan batil menjelmakan kebenaran
bukan ketakutan atau kepengecutan yang menggetarkan
tetapi tikaman ini lebih nikmat
dari sebuah perdebatan yang berbalutkan dendam
yang keluar dari kalut rimba
getarsuara yang dilemahkan bara silam

di atas meja ini ilmu akalku tersantai
tanpa kata-kata indah
bukan kepalsuan yang menjerat kandil diri
aku belajar dari kehidupan yang kerdil
harus kujaringkan daki ilmu
dari lupa dan kuhidupkan semula
dari akar ilmuku yang kukupas
dari semua kejatidirianku yang waras.

Bunyi Bulan

Cahaya bulan sepatutnya tumpah
dan hanya melihat suaranya
di tengah awan yang jatuh
menjadi sesuatu yang hening

Waktu mendengar bunyi yang disimpan
di dalam halkum bungkam
ada aksara yang menyatu diam-diam
menjadi dian memberi salam cahaya
bulan yang kurang berkembang,
di manakah bunyi itu bersembunyi
saat mula mengerti aroma
yang mulai bersuara
adalah ketiadaan yang sering ada

Diam-diam kuintai senyummu
tapi hanya saat ini juga bunyimu
belum ditemui, apakah kembali?
Sebentar lagi seperti sejarah yang tertulis
maka baik dibaca peristiwa itu sebelum
terjadi catatan yang tersesat di belukar malam
benar, sebentar lagi akan terjadi peristiwa
yang tidak dilupakan.

17 Ogos 2010

Hijab Setipis Zarah

apakah dapat kaudengar suaraku lagi
saat kupandang segalanya tembus sampai
di hujung ilusi bagai malam tak berakhir
dengan mimpi

kau berlari-lari anak jauh dari arahku
dengan busana tak pernah kuberikan
tapi sungguh tiada yang baru
dalam pandang menusuk ke kalbu

ketika kuberlari semakin tiada yang kudekati
sesuatu telah kauucapkan dari aras
hanya kumenerka salam damai
dan kasih sayang sentiasa berkembang

semakin kumerasai
kejauhan sebenarnya lebih dekat
dengan hijab setipis zarah
sekali terbisik bertahun detiknya tiba.


Sebuah karya: HASYUDA ABADI

PUSTAKA IQBAL NAZIM © 2010

Selepas Hujan

awan hanya sunyi saat bumi dimuntahi wap yang dikembalikan sebagai hujan. kini lembah lemah, daun-daun dingin, segala mergastua berdoa sebagaimana manusia dengan kesibukan sendiri antara risau dan harapan. awan tak mungkin kutemui kecuali selepas sebuah subuh dan mentari menyihirkan surianya.


Pustaka Iqbal Nazim
Kota Kinabalu

Lantera Musim Hujan

awan-awan telah mekar di ufuk bagai kehidupan yang bergerak
mawarmu semerbak harum telah menyerap di seluruh deria
tanpa satupun tidak menerima sapaan
ya ini kali yang kuharus akui titik sebuah trauma
dengan pandang cahaya memasung kita
musim yang telah tiba ini
merafak doa.

Pustaka Iqbal Nazim
Kota Kinabalu

16 Ogos 2010

Akal Merdeka

: kepada yang tercabut nikmat insannya

jika kau tahu hanya berkata
jika kau ingat hanya nikmat dunia
jika kau fikir hanya nafsu melulu
manakah akalmu manusia yang kejam?

belum sempat memanggilmu
apa lagi merasa susu
tentang zat dan nur Tuhan
menjelang terputus hubung dari rahim
akal merdekamu tercabut!

dicampak bagai buangan sisa
oh! betapa dinanya mata hati
yang mati
oh! betapa hinanya belas kasih
yang nanar bernanah
dibius akal merdeka yang kaku

jika hanya kau tahu bergembira
jika hanya kau nikmati serakah gila
jika hanya kau lupa zuriat siapa
merdekamu pasti penjara duka lara
dijerat dosa terhukum sepanjang usia.

Pustaka Iqbal Nazim
Taman Putera Jaya
Telipok

6 Ramadan 1431H

dicampak bagai buangan sisa
oh betapa dinanya mata hati
yang mati
oh betapa hinanya belas kasih
yang nanar bernanah
dibius akal merdeka yang kaku!

15 Ogos 2010

Ramadan

keserahkan tenangku di udara
terbang ke angkasa raya

dengan puji yang satu

dengan rasa ini
kurafakkan kata suci
agar bersih jiwa putih nurani
nikmat rahmat punyaMu
saat bersahur hingga tiba
di hujungnya
membisik damba

kembali semula di punca
lebih redha
sempurna rezeki dan ibadah
menyatu
mengalir ke ufuk kalbu
memancar semula tenang
hening ramadanMu
memaknakan hari-hariku.

Pustaka Iqbal Nazim
5 ramadan 1431H


Sesudah Sungkai

kurungkai sungkai ini
dalam khusyuk saudara-saudaraku
di luar sana
sama menjamah syukur
sebelum muazzin menebar suara
qamat maghrib membaris saf,
kutitip ratib syahdu
meraut duka saudara-saudaraku
di seluruh dunia
diratah payah musibah
digelut sengsara perang
dihambat derita tiada noktah,
kusambut salam ini
merafak doa saudara-saudaraku
di bawah langit terbuka
di bumi yang sama
dalam raja' yang senada.

PUSTAKA IQBAL NAZIM
4 Ramadan 1431H

...sama menjamah syukur
sebelum muazzin menebar suara
qamat maghrib membaris saf.

diratah payah musibah



merafak doa saudara-saudaraku

di bawah langit terbuka
di bumi yang sama
dalam raja' yang senada.

Tetap jua kutiada

kuzahir di dalam kandil
tumpang memekar cahaya
tetap jua kutiada
berbanding agung cahayaNya
kuhadir di hadam kalam
tumpang menerang makna
setiasa jua kutiada
berbanding indah makna qalamNya

Pustaka Iqbal Nazim
4 ramadan 1431H

15 Julai 2010

Melamar Rindu

Ya Rabbi, di semerbak malam kukhabarkan wangi Cinta, gementar debarku saat mentasbihkan asmaMU, Engkau yang bertakhta dalam keagunganMU, benar, kasihMU hampir yag dekat, ya Rahman, benarkan kumelamar rindu, sewaktu kudatang bertandang dari jauh, bersimpuh di bawah rimbunan maghfirahMU.

Ya Rabbi, di sakinah sunyi kukhabarkan lagi putih Cinta, gemersik santunku saat menguntum pinta, Engkau yang bertakhta dalam kebesaranMU, benar, kasihMU dekat yang akrab, ya Rahim, benarkan kumelamar rindu, sewaktu kudiami pesona mawaddahMU, sujud di bawah naungan rahmatMU.

Ya Rabbi, di mihrab pengabdian kukhabarkan lagi suci cinta, gemuruh gelora kalbuku saat kuikrarkan abrar, Engkau yang bertakhta dalam rahsia cahayaMU, benar, kasihMU akrab yang menyatu, ya Ghaffar, benarkan kumelamar rindu, sewaktu kubersembunyi dalam kilauan nurMU, abadi mengqiami cahaya dalam cahayaMU.

PUSTAKA IQBAL NAZIM
Taman Putera Jaya
Telipok.

Dalam Halkum Hud-Hud

Kucari yang tiada bersapa. demi senyap
wangilah deru 'ain yang menyulam salam nazim
kunjungan malam ini. demi sepi kujulang roh nazamkalbu
dalam halkum hud-hud yang rindu

Kucari jendelamu, kekasih

PUSTAKA IQBAL NAZIM

Banggi Menggamit Hati

Karakit

Ini bukan yang pertama kutiba dan kau menyambutku dengan senyum
sebuah hari di hadapan tenang lautan yang bertemu mempersila tamu

Kalangkaman

di bawah langit yang indah awan gemawan yang silih bertukar
tatapanku di hadapan bukit Semumbong kemegahan wargamu
kukunjungi kepelbagaian bahasa dan etnik tapi kali ini kalian
telah bersatu dengan bahasa yang satu

Sabur

Setelah meredah redup teluk, kau bersembunyi dari gelora laut
siur sungai ekologi bakau dan mergastua, kutahu dalam persembunyian
tersimpan khazanah yang berkembang bagai daun-daun dan tegar rimba


Pekan Karakit
24-27 Mei 2010



Kalian Sering Alpa


selamanya kemarau, kalian menyaksikan awan-awan menyembunyikan matahari, mengharapkan ada titisan yang menyimbah bumi. setelah hujan tiba, kalian juga mahukan agar matahari segera menyedut semula air yang menenggelamkan lembah dan dataran rumah-rumah murah. sungai yang melimpah dan pembangunan yang tidak gentar apakah musibahnya saat Tuhan memberi apa sahaja. benar kalian sering alpa...


PUSTAKA IQBAL NAZIM

Menerima Peringatan


kata awan, bersabarlah. akan redup alam biar matahari seterik mana atau setelah dingin oleh hujan. bersabarlah dengan air mata. bersabarlah dengan ujian Tuhan. Bersabarlah dengan hikmah yang menimpa. kata awan, kita setelah alpa yang menerima peringatan!


PUSTAKA IQBAL NAZIM

Hanya Damai


telah kulepaskan pandangku kepadamu. bawalah saujana arakanmu ke serata putaran alam. biar burung-burung ikut sama, menyapa sabit bulan atau bintang-bintang indah. bukan wap yang penyebab wujud tangis yang sering diiring gempita membelah apunganmu. hanya damai yang kuharapkan. hanya damai, Tuhan.


PUSTAKA IQBAL NAZIM

Awan-awan yang bergompalan


apabila matahari bangun tempiaskan cahaya paginya, kau akan memandang cahaya yang berlapis di atas awan-awan yang bergompalan di angkasa. bias cahayanya menarik sayu hati akan kebesaran Ilahi, wajah langit bagai sebuah galeri lukisan-lukisan abstrak yang amat bermakna, sebuah terapi yang bererti sekali.

kau akan teruja.


PUSTAKA IQBAL NAZIM