03 September 2022

ANDAIKAN MELAYU ITU MATAHARI

 

Setelah kau berkata soal Melayu
harus diperutuh jangan melayu
bagai sekeping papan di taman
dibugar hujan dan terang
rupanya itu hanya ragi kata
permukaan papan dibalut warna
setelah pudar dibalut lagi warna-warna.
 
Di panggung telah lalu matahari
setiap mata ikut mencari
padahal itu hanya matahari
terus diperaga dan jadi menara
lebih tinggi seperti tak ada lagi
Dia sering dilupai.
 
Sesungguhnya malam lebih tenang
kerana ada yang bersembunyi
tak pernah mata berkongsi
tapi dengan matahati
berbicara soal hakiki
bukan bulan atau bersebab bintang
apa lagi matahari.
 
Jika benar Melayu itu matahari
asal tak terpanggang akhirnya membumi
di menara akhirnya apa
andai permukaan diperindah retorika
gah di sudut-sudut yang payah
bermula dari garis yang sama
kemarin atau hari berikutnya
titiknya masih juga merayu sayu
meratap mengharap.