03 Januari 2011

Gizi Zaman

(Dedikasi: Datuk Haji Mohd Ariffin Arif)

Kau hanya mengenal Haji Saman dan Pak Musa diagungi sejarah dan Membakut semakin benar untuk membesar hidup bagai pucuk-pucuk awan saat terbentang matahari namanya mula bergema alif

Membakut disebut arif, arif didendang alif biar dondangan ini merakyat mengakrab ariffin yang jernih mengalir menjunjung khalifah bumi

Alif di hadapan berkumandang nikmat yang telah tumbuh wira yang resahnya di jiwa baktinya merujuk dambaan berkurun abrar dijanjikan Tuhan makmur madani memaknakan arif

Pada alif yang arif di sebut alif pada arif demikian terpandang gizi zaman mula terbelah sukma
telah bermula rukun kehidupan mahmudah memartabat mahabah.

Membakut-Sipitang-Tenom
31 Disember 2010

12 November 2010

Pencinta

telah lama kulalui badai hidup iktibar insan
kupelajari setiap lembar yang dibaca

andai inilah pertemuan yang tak pernah wujud
kita akan melalui pertemuan-pertemuan lain
kerana sunyi sering memberikan kenderaanya
membelah jalan-jalan yang meriah dan riuh

riuh sunyi terhasil rasa yang selalu rahsia
kita menjadi lebih waspada melepaskan tali uji
meredah payah dalam pelayaran yang masih koma
mengintai benar peristiwa tersimpan dengan setia

ini matahari cahayamu yang kembali
dalam bayang-bayang resah menolak rasa goyah
wangi bunga hati bergema berapung dalam minda
pilihlah jalan-jalan kebaikan untuk bertemu pencinta

cahaya telah lama berakar demikian benar
keagungan itu telah menerimamu pencinta sabar
kau semai cinta di dadaku tak mungkin terabai
junjung keberanian tabah menjulang niat tercapai

Sandakan,
Sabah.

11 November 2010

Asmaraloka

tak pernah lagi ku memandangmu
hanya panah kalbu yang menusuk kepadanya
membelah langit pawana

tatkala akan terbentang permaidani
kuberlalu dengan sebuah diri
yang memerdukan suara paling rahsia

apakah ada sebuah persitiwa yang
lebih dekat menelan indahmu cahaya
kian berkembang menakluk gelora?

kau berada di pandangan yang menjelma
berhijab di sebalik sutera asmaraloka
beradu di baldu singgahsana

ingin kupandang segala rasa
hanya kutahu semuanya sempurna
terkunci di kamar hamba

sebuah diri yang berlari-lari
menatapmu dalam lamun masa lalu
menaklukmu dalam sulam seutuh kalbu...

Sandakan,

Sabah. 

06 September 2010

Di Langit Cinta Engkaukah Nurin


Embun tidak kelihatan di sana
sapa sinar telah sirna semakin jauh sauh perahu hayat
terbenam dicengkam arus rakus
memusar kasar – bengis, tragis, sadis
berhamburan nafsu pada segala raksa memandang bungkam
sambil tak tergambar potret kesakitan dirakam alam diam
tak terkuasa menyelamatkan atau mengembalikan kekuatan
yang telah hilang dilorong ketakutan.

Engkaukah itu Nurin yang bisu tunduk berteleku
bagai patuh diuji petaka manusia durja
yang mati hati budi hilang pertimbangan insani
di celah bangsa ternobat hebat disanjung payung kasih sayang,
Engkaukah itu Nurin yang syahdu
dibungkus tanya dari telanjang ujian
membuat dunia berkabung dan menangis
menerima sebuah keberangkatan pilu menghiris,
Engkaukah itu Nurin yang berlalu
tanpa jalan-jalan terang buat kembali
tanpa lorong-lorong tenang buat pulang
menemui orang-orang tersayang.

Hanya cahaya cinta menyatukan rela redha pasrah
hanya bukti cinta maha agung menganugerahi
ujana putih di anjung syurgawi
hanya akrab cinta maha abadi bertakhta
mendakap silammu tanpa batas.

Saat berapung di udara cahaya menakluk mulus
dalam bauran desir doa yang terungkap dalam pengap
sepanjang saf-saf di musala
mengumpul ucap dan ungkap
mengalir ke langit cinta,
engkau di sana dalam nafas yang cair
meninggalkan zahir
yang berbeza warna menyatukan purnama
dalam bahasa rasa yang serupa.


Pustaka Iqbal Nazim,
Kota Kinabalu.
21 September 2007

04 September 2010

Lailatul Tajalli

bumi yang tenang
kembang cahaya bertandang
rahsiaNya yang tersimpan
qiam
hanya raja' dianyam
sejadah mengutus tulus
segala jiwa kudus


PUSTAKA IQBAL NAZIM
25 Ramadan 1431H

02 September 2010

Hari-Hari Baru

Dengan segera segara usia membentangkan
hari-hari baru. Di manakah engkau masa lalu?
Sayu syahdu terdengar suaramu di sisi malam
ketika detik semakin tipis akhirnya jernih
bergabung di dasar katarsis diri

Tak kan kembali hanya kenangan bersahabat
akrab menghulur pedoman panji-panji syahadat
bersaksi wujud keagungan dan waadat kesetiaan
menjelangnya kalimat menjana amanat
kukuh padu hayat

Hari-hari baru tak mungkin melupaimu peristiwa
tidak juga titik yang diam apabila perjalanan
akan saling berpegangan pengalaman
meluntur duka tapi melarik tabir cita
menyerlah semarak wibawa

Kubangun semula
hari-hari baru lebih harus waspada.

RAMIN 8
TAMAN PUTERAJAYA
TELIPOK KOTA KINABALU

1 September 2010
22 Ramadan 1431H

31 Ogos 2010

Menoleh Sesal

Hanya mimpi kau beri pada bulan
meski sempat kukutip debu-debu lalu di jalanan pulang
sempat kutoleh matangnya malang

tidak mengertikah bahasa degil sering terungkapkan
hala selalu diakhiri pedoman yang disesalkan
masa berlalu, berlalu saja di jendela dukacita

jika di situlah amaran, kusimpan malu di tabir bibir
tak ada huruf yang kuhafal selain memaknakan sesal
kala di simpang kutemui senjaku

berhenti menjelajah siur fikir
jejari hipokrit yang mencengkam dulu
lara membara, membakar wajar

berhenti menjengah mimpi-mimpi pada bulan
mari kayuh kehidupan ke perut lautan
meski tak menjumpai gelora dan gelombang

5 April 2000

29 Ogos 2010

Gumam

Memang, bukan mudah menterjemah madah suatu waktu di mana kelu lidah lebih suka memilih gumam, jika tiba waktunya suara tak berjiwa, hampa terpenjara di dalam kelam prasangka

Siapakah yang lebih gagah lalu berdiri bangga, tatkala akalnya telah diasak mewah, mindanya telah disuntik benih memperdaya? Siapakah yang lebih berduka lalu gumam, tatkala penjelasan terlalu sukar berakar, terlalu payah mengalah?

Menterjemah batini daripada sebuah pengalaman menjadi sedemikian payah, seolah-olah past iraja itu di mata dan sultan itu di hati! Walaupun gumam, denyut nadi sentiasa mencermini pengalaman lampau, rakit kesilapan yang hanyut jangan biarkan hanyut, teguhkan kerenggangan ikatannya dan tujuilah hingga ketemu lautan sebenar

Barangkali lebih baik gumam menterjemah warna ketenangan dalam diam mentelaah kecantikan bahasa batini menghadap cerminan kehidupan.


PUSTAKA IQBAL NAZIM

20 Ogos 2010

Di Hadapan Kertas Kerja

Bersedia membentangkan yang kufikirkan:
kumulai dari akar sejarah sebuah kesabaran
seorang manusia mendekap cermin kemurnian
seorang pencanang kekusutan ilham

bersedia menerima pisau yang kuasah
menyiat akalku yang mengilhamkan percubaan
memilih suatu kebenaran
meletakkan dacing penelitian
di atas kertas yang kubentangkan

dengan sehalusku kubicarakan dengan mendalam
kualihkan batil menjelmakan kebenaran
bukan ketakutan atau kepengecutan yang menggetarkan
tetapi tikaman ini lebih nikmat
dari sebuah perdebatan yang berbalutkan dendam
yang keluar dari kalut rimba
getarsuara yang dilemahkan bara silam

di atas meja ini ilmu akalku tersantai
tanpa kata-kata indah
bukan kepalsuan yang menjerat kandil diri
aku belajar dari kehidupan yang kerdil
harus kujaringkan daki ilmu
dari lupa dan kuhidupkan semula
dari akar ilmuku yang kukupas
dari semua kejatidirianku yang waras.

Bunyi Bulan

Cahaya bulan sepatutnya tumpah
dan hanya melihat suaranya
di tengah awan yang jatuh
menjadi sesuatu yang hening

Waktu mendengar bunyi yang disimpan
di dalam halkum bungkam
ada aksara yang menyatu diam-diam
menjadi dian memberi salam cahaya
bulan yang kurang berkembang,
di manakah bunyi itu bersembunyi
saat mula mengerti aroma
yang mulai bersuara
adalah ketiadaan yang sering ada

Diam-diam kuintai senyummu
tapi hanya saat ini juga bunyimu
belum ditemui, apakah kembali?
Sebentar lagi seperti sejarah yang tertulis
maka baik dibaca peristiwa itu sebelum
terjadi catatan yang tersesat di belukar malam
benar, sebentar lagi akan terjadi peristiwa
yang tidak dilupakan.